Baca Novel Itu Perlu

Bagi orang yang suka membaca untuk meningkatkan wawasannya, mungkin lebih memilih bacaan-bacaan nonfiksi yang bertema motivasi atau pengembangan soft-skill. Sebagian dari mereka  tidak suka membaca buku fiksi yang tebal, yakni novel. Alasannya, terlalu banyak makan waktu sementara muatannya sedikit. Tidak ada nilai yang didapatkan kecuali cerita-cerita cengeng, manja, dan dibuat-buat. Hehe…

Tapi menurut saya tidak juga. Ada banyak hal yang bisa kita petik dari sebuah novel. Apapun genre novel tersebut. Saya sedikit banyak sudah merasainya. Bagaimanapun, sebuah novel dikerjakan dari suatu riset yang panjang. Ada nilai pengalaman luar biasa banyak dari penulis novel tersebut yang dituangkan dalam cerita-ceritanya. Kita bisa mendompleng mendapati pengalaman tersebut tanpa harus terjun dan memakan waktu berhari-hari untuk itu. Tanpa sadar, kita sudah dapat feel yang mirip dengan orang yang mengalaminya langsung.

Lebih dari itu, kadang ada kalimat-kalimat yang bisa membuat kita tergugah. Apa yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita, tiba-tiba saja terbetik setelah membaca alur pikiran dari tokoh sebuah novel. Bahkan, tidak sedikit kutipan-kutipan terkenal yang lahir dari sebuah novel. Terlebih jika novel itu novel yang bagus. Saya yakin, kutipannya banyak beredar di dunia maya. Katakan novelnya Mbah Pram (Pramoedya Ananta Toer), novelnya Bang Tere, dan lain-lain.

Selain karya-karya orang yang terkenal di bidang sastra, kita juga masih bisa tetap mengambil hikmah cerita dari sebuah novel. Misalnya, pada sebuah novel “Introvert” saya mendapati sebuah nilai yang menarik: “Apa yang tidak kita perjuangkan, tidak perlu kita rayakan.” Sederhana, itu atas sebuah pemikiran si tokoh menyikapi tahun baru yang tak ikut-ikut merayakannya.

Juga tentang novel yang saya kira cengeng. Tapi saya penasaran. Judulnya, apa ya.. Hehe..

Intinya, anak-anak atau siapapun orang yang kita sayangi dan harus kita nafkahi itu bukan beban. Meskipun kenyataannya mereka itu adalah tangggungan kita secara ekonomi, mereka bukanlah beban. Justru, mereka harus menjadi alasan dan semangat untuk kita semakin baik, semakin maju dan berprestasi. Semakin kuat untuk bekerja keras dan bekerja cerdas.

Ya Allah, mudahkanlah kami para pejuang nafkah untuk menjemput rezeki-Mu demi mencukupi anak-anak dan istri kami, untuk semua orang yang kami sayangi. Semuanya… Aaamiin…

Cepu, 30 Januari 2020

 

Pos ini dipublikasikan di Catatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.