17 Agustus 2018

Hari ini tepat ulang tahun kemerdekaan RI yang ke-73. Saya berada di Blora, kampung kelahiran saya. Tanah tumpah darah Indonesia.

Pagi ini saya ikut upacara detik-detik Proklamasi di alun-alun Blora sebagai ASN berseragam Korpri. Upacara dimulai sekitar pukul 9.30. Walaupun sebenarnya barisan sudah ditata pada belasan menit sebelumnya. Padahal, di undangan tertulis pukul 8.30 harus sudah siap. Untung kami (saya dan teman-teman Korpri) sudah pengalaman pada tahun-tahun sebelumnya. Datang terlalu awal berarti menunggu dan bersabar lebih lama.

Upacara berlangsung khidmat. Walau saya dan beberapa teman mendapat tempat yang langsung terpapar matahari, alhamdulillah kami tidak ada yang pingsan.

Justru, dari barisan lain satu, dua, tiga orang mulai bertumbangan pada upacara yang selesai sekitar pukul 10.20 pagi tadi.

Di akhir upacara, sebelum turun dari podium, pak Bupati selaku inspektur upacara menyampaikan rasa terima kasih karena upacara telah berlangsung dengan khidmat.

Satu penggal acara yang menarik saya pagi ini adalah rasa haru ketika upacara penaikan bendera. Iringan instrumental Indonesia Raya dan khidmatnya suasana ketika bendera Indonesia dinaikkan, perlahan membuat hati ini berdesir. Mengingat perjuangan para pendahulu bangsa ini dengan peluh, darah, dan air mata mereka demi tegaknya ibu pertiwi dan terbebasnya dari belenggu penjajah.

Rasanya jadi malu diri ini menyadari bahwa perjuangan untuk menjadi pribadi bermanfaat bagi orang sekitar pun belum terwujud. Jadi malu, hanya gara-gara lelah mendera, lalu gesekan sedikit dengan orang lain tiba-tiba merusak suasana hati. Akibatnya, diri merasa tidak optimal melakukan sesuatu. Ah, malunya.

Sore hari, saya ikut juga upacara penurunan bendera. Di undangan tertulis 16.30. Namun, kenyataannya dimulai lebih dari itu.

Berikut beberapa jepretan saya ketika momen 17 Agustus 2018.

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

Hari Blogger Nasional

Baru saja saya membaca tulisan di blog dosen saya yang menceritakan bahwa hari ini adalah hari blogger nasional. Kemudian saya googling tentang hari blogger nasional, dan ketemu artikel di Kompas tahun 2011 berjudul Hari Blogger Nasional dan Sejarah Perkembangannya. Jadi segar lagi ingatan, ternyata hari blogger itu pernah ada. Hehe.. Sekarang, masih ada ndak ya? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

Tips Menulis Bang Tere

Siapa tidak kenal Tere Liye? Pria penulis novel laris ini merupakan sosok yang sangat berpengaruh di dunia sastra Indonesia saat ini. Karya-karyanya digandrungi banyak kalangan dan beberapa sudah dan akan naik ke layar kaca. Tak heran, karena memang setiap rangkaian kata dalam novelnya seakan memiliki daya magis tersendiri yang dapat menghipnotis pembacanya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

Banyak Cerita Terlewat

Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa kecuali diri saya sendiri. Apa pasal? Ya, lantaran saya enggan (baca: males) menulis, jadinya banyak cerita penuh hikmah dan pelajaran yang terlewat tidak saya titipkan di sini. Bukan karena saya ingin sok jago menulis blog, karena sungguh saya tidak jago, tetapi sekadar ingin mencatatkan peristiwa yang kelak bisa saya kenang dan perbarui hikmahnya di dalam jiwa. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

Ketika Malas Menulis

Ya akhirnya saya mencoba fitur voice typing milik Google. Mari kita lanjutkan dengan mengetik menggunakan Voice Typing. Artinya kita mengetik tidak lagi menggunakan jari-jemari tetapi menggunakan mulut. Ah sepertinya ini akan sangat memanjakan orang-orang yang malas menulis. Bagaimana tidak, orang yang ahli menulis dengan teknik 10 jari akan kalah cepat dengan orang yang menggunakan fitur voice typing ini. Seperti halnya pada kesempatan ini, saya menggunakan fitur voice typing milik Google. Ternyata enak juga. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

Pusdiklat BPS ke STIA LAN Siang Ini

Ini adalah satu hari yang berkesan bagi saya. Ada acara penutupan diklatpim sekaligus pengumuman kelulusan. Ada rasa bahagia begitu dinyatakan lulus. Syukur sebanyak-banyaknya kepada Allah karena saya diluluskan-Nya. Terima kasih pada semua pihak yang telah membantu kami selama proses diklat ini.

Selepas penutupan, beberapa di antara kami pergi ke Balai Bahasa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Lembaga Administrasi Negara (LAN). Keperluannya adalah mengikuti ujian ulang bahasa Inggris karena nilai minimalnya belum tercapai saat ujian bersama sekitar dua bulan yang lalu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

Iseng Uji Kecepatan Internet

Malam ini, di Pusdiklat BPS, ada dua opsi koneksi internet saya. Pertama pakai jaringan yang disediakan oleh kantor, yang kedua yang disediakan oleh Telkom melalui hotspot wifi.id. Mari kita bandingkan hasilnya…

Cara pertama, saya menggunakan uji kecepatan koneksi Internet yang disediakan oleh Cyberindo di link ini: https://speedtest.cbn.net.id. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

Programmer Polyglot

Pernah dengan istilah polyglot? Pasti pernah, karena istilah ini sering dipakai untuk menunjukkan kejeniusan sekolompok orang yang menguasai empat atau lebih bahasa di dunia ini. Ada yang sekali mendengar kosakata bahasa asing langsung bisa mengingatnya di lain kesempatan. Yang seperti ini biasanya menguasai lebih dari sepuluh bahasa. Wow.. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan, Developer | Meninggalkan komentar

Orang Terkenal yang Tidak Saya Kenal

4e2be022-19c4-4a58-be10-0132ced66b91_169.jpegSaya kaget membaca berita di detik.com mengenai nasib adik dari satrawan terkenal asal Blora, kampung halaman saya, Pramudya Ananta Toer. Adiknya tersebut bernama Soesilo Toer. Jujur, saya pribadi belum pernah menyambangi rumah beliau, meskipun kalau dilihat dari alamatnya, di daerah Jalan Sumbawa, tidak lebih 10 menit sudah sampai ke sana. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

Jika (Tiba-Tiba) Kau Harus Pergi

Tulisan kali ini sedikit bersifat mengajak merenung. Merenung tentang kehidupan kita yang sangat singkat. Jika dihitung dalam tahun, tidak sampai menyentuh angka dengan tiga digit. Ambil saja rata-rata 63 tahun, seperti umur ketika Nabi Muhammad wafat.

Perenungan kali ini adalah dengan tujuan agar kita tidak membiasakan sikap menunda, tetapi lebih mengedepankan segera menyelesaikan pekerjaan. Agar tidak ada tanggung jawab tertinggal untuk orang-orang yang ada di sekitar kita. Entah itu teman kita, saudara kita, orang tua kita, anak-anak kita, istri atau suami kita, dan lainnya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar