Memelihara Kesalahan

Terdengar anehkah judul postingan ini? Memang aneh karena secara akal sehat memelihara kesalahan adalah sebuah hal yang tidak dibenarkan menurut ideologi manapun. Kalaupun ada yang membenarkan, tentu itu berarti ideologinya yang salah. Tetapi, kenyataannya tidak sedikit orang yang memelihara kesalahan, terutama di dunia media sosial. Selanjutnya, tulisan ini akan berbicara dengan konteks media sosial.

Kesalahan apakah itu? Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Catatan | Tag , , | Meninggalkan komentar

Berdamai dengan Keterpurukan

merasa_terpuruk

Credit: satuharapan.com

Pernahkah Anda merasa terpuruk? Mungkin lantaran hal remeh yang Anda harapkan tidak tercapai lantas Anda merasa seperti dijatuhkan dari suatu tempat yang tinggi? Atau mungkin pula karena sesuatu yang kurang mengenakkan menimpa Anda lalu Anda merasa semua telunjuk orang mengarah ke muka Anda hanya karena itu hasil pekerjaan Anda? Pernah?

Bersyukurlah jika Anda menjawab tidak pernah. Kalau saya, pernah. Dan itu rasanya sangat malu, sekaligus pedih ketika dirasakan pada situasi menyendiri. Ya, walaupun tidak sepedih ketika cinta kita ditolak atau lamaran kita tidak diterima. Hehe.. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Tag , | Meninggalkan komentar

Jalan Pintas Menuju Insan Produktif

ramit.pngTak sengaja saya membaca sebuah artikel yang sangat bagus mengenai jalan pintas dalam menggapai kesuksesan. Jalan pintas yang dimaksud di sini adalah kebiasaan-kebiasaan positif yang dapat mengantar seseorang menjadi pribadi yang produktif. Ramit Serthi, penulis buku “I will teach you to be rich” sekaligus pemilik website https://www.iwillteachyoutoberich.com, menyajikannya untuk kita semua. Di blog ini, saya menyalin apa adanya dengan bahasa aslinya. Selain karena saya tidak ingin mengubah kandungan asli kalimat-kalimat tersebut, saya juga tidak memiliki cukup waktu untuk menerjemahkannya. Nah!

Selamat menyimak dan semoga bisa menjadi jalan pintas juga untuk kita. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Tag , , | Meninggalkan komentar

101 Intisari Seni Perang Sun Tzu

101Buku ini merupakan salah satu karya dari William Tanuwidjaja. Seperti kita ketahui, Sun Tzu adalah seorang Jenderal China zaman dahulu yang ahli strategi militer dan perang. Jenderal ini menulis karya yang luar biasa tentang seni berperang. Mungkin karena isinya sangat panjang, penulis berinisiatif untuk membuat intisarinya. Beruntung, saya sempat membaca intisarinya, walaupun buku aslinya belum pernah saya baca.

Buku intisari ini isinya berupa kalimat-kalimat singkat yang kalau boleh saya sebut lebih mirip pokok-pokok pemikiran dari karya Sun Tzu. Padahal, pada awalnya saya berharap ada sedikit ilustrasi mengenai setiap intisari yang disajikan. Walhasil, jujur saja saya tidak begitu ngeh dengan setiap intisari yang disajikan.  Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Tag | Meninggalkan komentar

Tantangan Latihan Menulis

Untuk membayar rasa bersalah atas sebulan lebih saya tidak memposting tulisan di blog ini, saya mencoba menciptakan tantangan bagi diri sendiri. Jadi, tulisan kali ini berisi hanya seperti uneg-uneg. Syukur kalau bisa menginspirasi para pembaca. Kalaupun tidak, ya tidak apa-apa. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

Ketika Bangga dan Malu Jadi Satu

Momen idul fitri tahun ini cukup berkesan bagi saya. Salah satu kesan yang mendalam adalah kunjungan kakakku yang ada di luar jawa ke kampung halaman. Ya, demi silaturahim ke ibu yang ada di Blora, keluarga kakak lengkap dengan lima orang anaknya, semuanya. Ada sekelumit cerita yang ingin saya bagi kepada pembaca semua. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

(Calon) Penulis yang Berhenti Menulis

Beberapa waktu lalu saya sempat berharap bahwa suatu saat saya bisa menjadi penulis. Penulis di sini dalam arti menulis artikel di media massa, buku, atau yang sejenisnya. Namun, sayang seribu sayang, satu-satunya hal yang bisa mendukung untuk hal itu justeru tidak saya siapkan. Apa itu? Menulis. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

Terapi Menulis

Saya bersyukur, diberi nikmat oleh Allah berupa kesukaan untuk mengungkap rasa dan pikir melalui tulisan. Walaupun saya sadar sepenuhnya bahwa tulisan saya ini tidaklah cukup berkualitas. Harap dimaklumi saja demikian karena memang konten yang saya usung tidak memuat bobot yang mumpuni. Seperti misalnya, analisis yang didasari fakta ilmiah, kutipan-kutipan yang populer, dan sebagainya.

Kesyukuran ini pulalah yang menuntun jemari saya untuk menulis di malam ini. Mengapa sampai semalam ini belum tidur? Hehe, saya sudah terlalu lama menginap di hotel (hampir dua minggu) tanpa bertemu istri dan anak-anak.

Jadi, bukan hal yang aneh jika saya mengalami insomnia detik ini. Hehe.. Bahkan, tulisan ini saya ketik di atas hape saya sembari duduk di sofa lobby hotel. Wow, sekalian saya melewatkan pergantian hari pada tengah malam ini.

Alhamdulillah saya bisa melakukan sedikit hal positif: melakukan terapi menulis. Sebenarnya selain postingan ini, saya juga menulis di laman yang lain. Jadi, ini ceritanya adalah tulisan kedua.

Mengapa saya katakan menulis ini adalah sebuah terapi? Karena, ini menurut pemikiran dangkal saya ya, menulis itu bisa memfokuskan otak pada satu titik tertentu yang ternyata bisa mengurangi rasa tidak enak di bagian otak yang lain. Rasa tidak enak seperti apa?
Kangen keluarga, itu salah satu contohnya. Kepikiran pekerjaan yang belum selesai, itu contoh yang lain.

Terbukti, saya mulai mengantuk… Tidur dulu ya guys..

Dipublikasi di Catatan | Meninggalkan komentar

Lompatan Nasib

Nasib kita sudah ditentukan. Benarkah demikian? Memang benar, karena itu semua sudah tercatat pada sebuah catatan bernama Lauh Mahfuz. Tetapi, kita masih bisa mengubah catatan nasib tersebut, tentu saja dengan ihtiar dan doa kepada Sang Pemilik Catatan itu. Apakah benar hanya dua hal itu saja yang kita butuhkan? Ihtiar dan doa? Sepertinya memang demikian. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan, Cerita Inspirasi | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Metode Menghafal Quran

220px-Opened_Qur'an[1]Beberapa waktu lalu, keluarga kakak saya datang berkunjung ke kampung. Salah satu anaknya yang sekolah di pondok, mengaku sudah hafal 11 juz. Padahal dia baru naik kelas delapan. Dalam hati saya sangat bangga, ada keluarga saya yang dalam usia sebelia itu sudah bisa menghafal Quran sebanyak itu. Demikian pula adiknya yang baru naik kelas empat yang sudah hafal tiga juz. Lebih terpana lagi saya ketika saya mencoba memberi soal hafalan. Saya membaca sebuah ayat, kemudian saya meminta mereka untuk melanjutkannya. Kedua anak kecil itu bisa melanjutkan ayat yang saya bacakan. Masya Allah

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Catatan, Cerita Inspirasi | Tag , , | Meninggalkan komentar